Money

BI Berjuang Jaga Rupiah Tetap Stabil dan Menguat di Tengah Tekanan Dolar AS

Jakarta (KABARIN) - Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menegaskan BI akan mengerahkan seluruh upaya untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil dengan kecenderungan menguat meski berada di bawah tekanan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

"Oleh sebab itu memang Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. Bank Indonesia seperti biasa akan all out untuk bagaimana menjaga Rupiah itu tetap stabil dengan kecenderungan menguat," ujar Ramdan di Jakarta, Selasa.

Ramdan menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh sinyal hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) serta penguatan Indeks Dolar AS (DXY), yang mendorong pelemahan mata uang berbagai negara terhadap dolar AS.

Ia mengatakan perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada pertengahan Juni 2026. Meski suku bunga acuan Fed Funds Rate dipertahankan di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen, pasar menilai pernyataan sejumlah pejabat The Fed mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini.

"Dimulai ketika The Fed melakukan Federal Open Market Committee (FOMC) sekitar tanggal 17 Juni 2026. Jadi, yang perlu diketahui keputusan FOMC The Fed bulan Juni, walaupun suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Fed Funds Rate tetap 3,5 sampai dengan 3,75 persen, tetapi yang dicermati oleh pelaku pasar adalah sinyal hawkish dari pernyataan sejumlah pejabat The Fed," katanya.

Menurut Ramdan, kondisi tersebut turut mendorong penguatan DXY. Indeks dolar AS yang berada di level 95 pada Januari 2026 meningkat menjadi 101 pada akhir Juni, sekaligus menjadi level tertinggi dalam setahun terakhir.

"Jadi, kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti oleh naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar mata uang sejumlah negara itu melemah terhadap dolar AS," kata Ramdan.

Meski demikian, ia menilai pergerakan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara berkembang lainnya. Ramdan berharap rupiah tidak hanya stabil, tetapi juga secara bertahap kembali menguat terhadap dolar AS.

"Kita bisa melihat bagaimana Rupiah perkembangannya relatif termasuk baik dibandingkan negara emerging market yang lain dan tentunya kita berharap ke depan Rupiah di samping stabil akan mulai perlahan menguat terhadap dolar AS. Oleh sebab itu tentunya sinergi dari berbagai macam pihak itu sangat diperlukan untuk sama-sama membawa Rupiah kita menguat terhadap dolar AS," tambah Ramdan.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar selama 24 jam, baik di pasar domestik maupun luar negeri, melalui transaksi pasar spot, non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), serta komunikasi intensif dengan pelaku pasar.

Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: